Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

Akankah Indonesia Mengakuisisi Sistem Pertahanan Korkut SPAAG Aselsan Turki?



Tentara Nasional Indonesia terus menilai unit mekanik berlapis baja mereka untuk pembelian sistem meriam pertahanan udara self-propelled untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara dataran rendah. KORKUT menonjol di antara sistem kandidat yang dapat memenuhi kebutuhan.

Sebuah delegasi yang terdiri dari pejabat TNI dan personil teknis memeriksa kompetensi teknis sistem KORKUT di Ankara, pada 20 September 2018, delegasi diberikan presentasi dan demonstrasi mengenai kemampuan ASELSAN dan fitur teknis sistem KORKUT. Kemudian, selama kegiatan pelatihan yang direncanakan dari Land Forces Command Air Defense School, demonstrasi dan non-tembakan tes yang sukses dilakukan di daerah MSB Konya Karapinar Fire.

Demonstrasi tersebut merupakan bukti bahwa KORKUT memiliki sistem yang sangat efektif terhadap target lahan serta menunjukkan keefektifannya terhadap target udara dalam berbagai skenario termasuk deteksi dan keterlibatan multi-target. Target udara dan empat target darat telah berhasil dipukul dalam berbagai skenario, termasuk skenario yang menunjukkan kemampuan sistem untuk bergerak.



Sistem KORKUT, yang memenangkan kekaguman dan apresiasi delegasi Indonesia, telah menunjukkan kompetensi teknis dan telah menyelesaikan tahap yang sangat penting dalam proses pengadaan Indonesia.

Sistem KORKUT, yang memiliki banyak fitur luar biasa dibandingkan dengan rekan-rekannya, adalah solusi pertahanan udara yang efektif terhadap rudal udara-ke-darat, rudal jelajah, dan kendaraan udara tanpa awak dengan Amunisi Partikel ATOM® 35 mm yang dikembangkan oleh ASELSAN.

Konfigurasi kendaraan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan operasional pengguna. Ini memiliki kapasitas untuk membawa muatan seperti senapan 150 mm, platform pertahanan udara, sistem radar seluler skala besar, dukungan tembakan artileri, dan artileri dipasang di puncak dan sistem rudal

Sabtu, 03 November 2018

Gelaran Indo Defence 2018 Belum Dimulai, Namun Prancis dan Turki Sudah Berlomba Untuk Menawarkan Kapal Selamnya Kepada Indonesia




Gelaran Indo Defence 2018 tak lama lagi akan dijelang (7 – 10 November), dan seperti biasa, ajang pameran pertahanan dua tahunan ini akan memberikan kesempatan bagi para vendor alutsista dari dalam dan luar negeri untuk unjuk kebolehan, dan tentunya diakhiri unjuk penawaran kepada Kementerian Pertahanan RI.

Dan, salah satu peluang pengadaan yang terbuka lebar adalah program pemenuhan target kapal selam untuk TNI AL. Seperti telah kami wartakan sebelumnya, pada Desember 2017, disebutkan bahwa target kepemilikan armada kapal selam hingga 2024 telah direvisi. Pihak Mabes TNI AL telah mengkonfirmasi bahwa persyaratan awal untuk 12 kapal selam pada tahun 2024 sebagaimana ditetapkan dalam cetak biru Minimum Essential Force (MEF) III telah dikurangi menjadi 8 unit.

Dengan kondisi di atas, maka terbuka peluang pengadaan 3 unit kapal selam, setelah saat ini Satsel (Satuan Kapal Selam) telah mengoperasikan 4 unit kapal selam, dan 1 unit Nagapasa Class yang akan segera diresemikan dalam waktu dekat. Adalah Naval Group (d/h DCNS) dari Perancis yang sudah memastikan akan ‘memperlihatkan’ keunggulan kapal selam Scorpene Class di Indo Defence 2018.





Dikutip dari shephardmedia.com (1/11), juru bicara Naval Group menyebutkan, bahwa Indonesia menginginkan tipe kapal selam yang ideal beroperasi di laut lepas dan laut dangkal. “Dengan kebutuhan tersebut, kami menawarkan Scorpene Class,” ujar juru bicara Naval Group.
Dari beberapa Scorpene Class yang telah diproduksi, dua diantaranya kini dioperasikan AL Malaysia. Saat ini belum ada lagi order pembangunan Scorpene Class di Asia Tenggara, namun India sudah sudah resmi memesan 6 unit program Project 75I-class bersama Perancis. Keunggulan Project 75I Class adalah kapal selam diesel listrik ini dilengkapi peluncur VLS (Vertical Launch System) untuk rudal jelajah Brahmos/Yakhont. Selain itu Project 75I Class sudah mengsung teknologi Air Independent Propulsion (AIP).
Dan seperti Scorpene Class yang ditawarkan ke Indonesia, enam unit Project 75I Class dibangun oleh galangan nasional India. Sebelumnya pada Oktober 2015, Naval Group telah melobi Pemerintah RI untuk mengakuisisi kapal selam diesel listrik Scorpene 1000 SSK.
Scorpene 1000 disebut sebagai Andrasta Class, yakni konsep kapal selam yang digadang Naval Group pada tahun 2008. Dari informasi yang didapat, Scorpene 1000 punya bobot 855 ton (di permukaan), panjang 48,8 meter dan diawaki 19 personel. Scorpene 1000 dibekali enam tabung peluncur torpedo 533 mm. Selain torpedo, juga dapat diluncurkan rudal anti kapal SM-39 Exocet.

Di Indo Defence 2018, Perancis tak sendirian dalam menawarkan kapal selam untuk Indonesia, sama-sama mengedepankan ToT (Transfer of Technology) ada nama besar yang tak kalah sangar, seperti Savunma Teknolojileri M├╝hendislik ve Ticaret A.┼× (STM) dari Turki. STM diwartakan telah melakukan penandatangan perjanjian dengan manufaktur pertahanan asal Jerman ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) untuk proyek kapal selam baru TNI AL.

Selasa, 03 Juli 2018

Melihat Rancangan Awal Pesawat Tempur KFX/IFX Yang Baru Saja Diluncurkan



Badan Akuisisi Senjata Korea Selatan pada 29 Juni 2018 meluncurkan rancangan awal pesawat tempur KFX/IFX setelah hampir 30 bulan peluncuran program pengembangan yang dilakukan pada Januari 2016.
Pengungkapan desain KFX datang setelah Defense Acquisition Program Administration (DAPA) mengadakan tinjauan desain awal atau, Preliminary Design Review (PDR), antara 26-28 Juni dari pesawat jet bermesin ganda generasi 4,5 untuk memutuskan apakah akan melanjutkan ke fase berikutnya yang disebut sebagai tinjauan desin kritis atau Critical Design Review (CDR).

"Melalui PDR, Kami telah menegaskan bahwa semua persyaratan sistem dipenuhi dalam rancangan awal sehingga dapat memasuki tahap CDR," Kata Jung Kwang-sun, ketua kelompok program KFX DAPA.
"Kami berencana untuk menyelesaikan pekerjaan desiain menditail pada bulan September 2019 dan memulai produksi prototype yang pertama."

Empat rudal udara ke udara jarak jauh yang dikembangkan oleh MBDA diperlihatkan berada di bawah pesawat, sementara dua rudal udara ke udara jarak jauh IRIS-T masing-masing dipasang pada ujung sayap . Dia menambahkan rancangan yang belum diresmikan, dengan ode C-109, telah selesai menjalani uji terowongan angin berulang dan analisis dinamika fluida komputasi.

" Ini adalah pertama kalinya melihat gambar resmi pesawat jet tempur KFX/IFX yang dilengkapi dengan rudal Eropa," Kata Kim Dae-young seorang peneliti dari lembaga penelitian Korea yang berbasis di Seoul, Korea Selatan Research Institute for National Strategy. " Itu berarti insinyur KFX telah memodifikasi desain jet untuk membawa sistem senjata Eropa menggantikan buatan Amerika."

DAPA awalnya lebih suka memasang pesawat KFX dengan sistem senjata Amerika, seperti misil Raytheon AIM-120 AMRAAM dan AIM-9 Sidewinder, tetapi pemerintah Amerika tidak meyetujui lisensi ekspor rudal tersebut. Sumber DAPA mengatakan kepada Defense News, bagaimanapun, bahwa agensinya masih terbuka untuk kemungkinan integrasi rudal udara ke udara Amerika ke jet KFX/IFX.

"Rudal Meteor dan IRIS-T, pada kenyataannya, lebih mahal dari milik Amerika, tetapi memiliki kualitas lebih baik." kata sumber tersebut.



Untuk Jasa Pengiklanan di Blog ini Hubungi
WA: 087823592561
Atau dinomer ini: 083899299629
email: [email protected]