Sabtu, 13 Juli 2019

Teman Tak Kasat Mata


 Padang Paparangan Gn. Lawu


Lawu – Gunung dengan ketinggian 3265 MASL ( Meter Above Sea Level ) atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan Meter di Atas Permukaan Laut ( MDPL ) ini menyimpan banyak cerita dan terkenal dengan kisah mistisnya. Salah satunya kisah yang akan aku ceritakan ini, 25 Desember 2016, jumlah kami adalah lima orang dengan formasi dua perempuan dan tiga laki-laki, kami berlima memulai perjalanan dari Kabupaten Sukoharjo menggunakan tiga sepeda motor. Jarak antar Kabupaten Sukoharjo dengan Kabupaten Karanganyar dimana Gn. Lawu berdiri dengan gagahnya.

Sebelum menuju basecamp pendakian di kawasan Cetho, kami mampir terlebih dahulu di sebuah warung makan yang berada di area kebun teh Kemuning, Sambil makan kami sempat berbincang-bincang dengan sang pemilik warung, nah dari bapak pemilik warung itulah kami dikasih tahu tentang pantangan apa saja yang tidak boleh dilakukan selama melakukan kegiatan di jalur pendakian. Salah satunya ialah tidak diperbolehkan membuang hajat ( buang air kecil & besar ) sembarangan tanpa meminta izin, berteriak sembarangan, berkata kasar, tidak boleh mendaki dalam jumlah ganjil ( kalaupun ganjil harus diakalin semisal membawa tongkat/treckingpole ), kemudian dilarang merusak apapun yang ada di alam, serta dilarang mengganggu atau menangkap burung jalak lawu sekalipun burung itu berjalan bersama kita. Menurut beliau pihak BC tidak akan memberitahu pendaki soal itu semua.

Matahari semakin menunjukkan eksistensinya, kami segera meminta izin untuk sekedar “rebahan” di warung tersebut selama 1-2 jam, setelah kami cukup istirahat dan melaksanakan sholat dzuhur kami langsung menuju basecamp dan mengurus simaksi serta berbagai keperluan. Singkat cerita, pada pukul 12.30 WIB kami sudah mulai mendaki, selama perjalan kami bertemu dengan beberapa pendaki lain yang telah berangkat lebih dulu, seperti sudah menjadi sebuah tradisi untuk saling sapa dan menyemangati antar pendaki mereka pun bilang “Semangat Mas, pos 4 sepuluh menit lagi” yang mereka maksud mungkin 4x10=40, 40 menit lagi. Pukul 16.30 kami telah sampai di pos 4 dan salah satu rekan meminta untuk istirahat, namun lokasi di pos 4 tidak cukup luas karena sudah ada pendaki lain yang juga sedang istirahat dan memasak disana, namun mereka mau turun, akhirnya Ia meminta kami ber empat untuk jalan terlebih dahulu ke pos 5 yang tidak terlalu jauh.

Kami ber-empat pun jalan duluan sambil mencari tempat untuk berteduh, dan kami istirahat di sebuah pohon diatas jalan datar sebelum pos 5. Sekitar 30 menit kami menunggu rekan yang tadi istirahat di pos 4 tapi tidak ada tanda-tanda ia datang. Karena menjelang gelap, serta stok air yang menipis, logistik dabawa semua oleh dia buat bantal katanya. Lalu kami memutuskan untuk mencarinya hingga di sendang drajat kami beristirahat sebentar. Di sendang drajat ternyata cukup ramai, karena banyak pendaki yang beristirahat disana. Tak lupa aku pun mengambil air untuk membasuh muka serta mengisi botol air yang sudah kosong untuk stok. Selama berada di sendang drajat sama sekali tak terlihat rekan kami yang beristirahat di pos 4 tadi. Aku melihat salah satu rekan yang bersamaku sudah mengelus-elus perut, aku pun mengajaknya beserta kawan yang lain untuk berjalan menuju warung mbok yem agar bisa makan disana sambil menunggu rekan tadi datang.

Sesampainya di warung mbok yem mereka segera memesan makanan, sedangkan aku hanya memesan kopi saja. Karena belum begitu lapar. Pukul 17.30 rekan kami masih belum datang. Akupun mulai khawatir, jangan-jangan belum bangun dia dan tidak ada yang bangunin, sedangkan tenda dibawa olehnya. Kami meminta izin kepada mbok yem, kemungkinan kalau sampai gelap belum ketemu juga, nanti kami bakal nginep disana. Namun, sebelumnya aku dan satu teman ku, karena yang dua orang perempuan diminta oleh temanku tersebut untuk menunggu di warung mbok yem. Akupun memberikan mereka peluit dan meminta kepada mereka jika sudah melihat rekan kami yang belum kembali tadi untuk membunyikan peluit panjang 3x dan jika aku dan temanku yang sedang mencari tadi belum kembali sebelum pukul 18.00 mereka aku minta untuk membunyikan peluit dengan sinyal S.O.S dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Sesampainya kami ber dua di pos 4 sudah tak ada pendaki disana. Pun, saat berjalan dan berpapasan dengan pendaki lain kita selalu menanyakan apakah melihat rekan kami atau tidak, dan mereka menjawab tidak tahu. Rasa cemaspun makin bertambah.

Namun, ketika kita berjalan ketempat awal kita istirahat sebelum pos 5. Ada satu orang dari rombongan pendaki yang kita tanya tadi menyusul memberitahu kalau ada seorang pendaki juga sedang mencari empat rekannya di hargo dalam. Itu pasti dia. Teriak kita. Lalu kita memutuskan kembali ke warung mbok yem untuk memberitahu kawan perempuan kami tadi dan bergegas menuju hargo dalem bersama pendaki tadi. Dan.... benar, orang yang sedang mencari mami itu ialah rekan kami tadi. Rasa cemaspun perlahan hilang terganti rasa syukur. Sembari kembali jalan menuju warung mbok yem untuk mengambil carrier, rekan kami pun bercerita kalau tadi dia lewat jalan langsung menuju hargo dumilah, dan sudah mendirikan tenda disana sejak jam 17.00.

Malah, ia sudah foto-foto juga dengan cewek-cewek di puncak sembari menikmati matahari terbenam. Makanya tidak bertemu dengan kami. Kesel pasti, tapi kalau marah tentu tidak, berusaha sebisa mungkin ditahan. Karena kami sudah dibuat nungguin lama, eh dianya malah cerita sambil ketawa kayak gak punya dosa. Singkat cerita kami berlima sudah berada dipuncak, dan tenda kami berada cukup dekat dengan tugu hargo dumilah, pukul 18.15 WIB setelah sholat magrib yang sekalian men-jamak isya dan masak serta makan. Kami masuk tenda untuk bersiap tidur, tak menunggu waktu lama mereka pun terlelap tidur. Tidur yang pulas terdengar dari suara dengkuran salah satu dari mereka yang cukup keras. Dan aku masih terduduk sendiri disamping mereka. Akhirnya aku mulai rebahan, baru mau memejamkan mata. Tiba-tiba, aku dikagetkan oleh hantaman keras ketenda dari luar dan itu tepat diatas kepala ku. Akupun seketika duduk lagi, namun rekan ku yang sempat hilang tadi tiba-tiba juga terduduk tapi tidak terbangun, tapi mengigau ngomong beberapa kalimat dan tertidur kembali. Aku agak lupa apa yang ia ucapkan kala itu, tapi ada semacam ucapan “jangan ganggu, awas...!”

Baiklah... Aku mulai merasakan ada sebuah keganjilan, hantaman yang begitu keras barusan pun tidak bisa membuat mereka bangun malah ada yang dengkurannya semakin keras. Akupun kembali rebahan, tak lupa berdoa terlebih dahulu. Namun, kali ini yang aku rasakan ialah suasana menjadi hening, dan udara mulai dingin. Jadi, hal seperti sudah aku kenal, ini merupakan suasana yang tidak wajar. Pasti ada yang lagi berkunjung.

Di malam yang dingin itu, akupun mengucapkan “kula nuwun,nyuwun pangapunten menawi kula lan rencang-rencang kula gadah kalepatan, kula lan rencang-rencang namung badhe sowan wonten mriki. Sumonggo menawi badhe pinarak, kula pikantukaken” atau dalam bahasa Indonesia berarti ( Permisi, mohon maaf jika saya dan teman-teman saya memiliki kesalahan, saya dan teman-teman hanya datang berkunjung di sini. Silahkan jika mau mampir, saya perbolehkan ). Akupun kemudian memejamkan mata. Baru sebentar terpejam, akupun terbangun lagi. Tapi kali ini aku melihat diriku sendiri tertidur. Apakah ini yang dinamakan Astral Projection itu, pikirku. Lalu terdengar suara “keluarlah, aku ada diluar”. Aku pun bangkit dan keluar tenda, diluar aku melihat seorang perempuan yang berwajah manis, sedang berdiri di depan tenda dan tersenyum padaku. Dari pakaian yang ia kenakan  seperti pendaki tapi terkesan ‘kuno’.

Sendang Drajat

Namun kalau aku lihat dia seperti 3 tahun lebih tua dariku. “Maaf, aku membangunkanmu, namaku ...... ( maaf saya tidak bisa mempublikasikan namanya, karena ini adalah aturan dan perjanjian dengan yang tak kasat mata. Mungkin yang tahu soal hal tak kasat mata,pasti tahu alasan dibalik itu semua. Tapi aku bisa memberitahukan ceritanya kepada siapapun ). Aku tidak bermaksud jahat, hanya ingin mengajaknya jalan-jalan, dan menceritakan sesuatu”. Akupun hanya mengangguk tanda setuju, dan mengikutinya pergi dengan jalan disampingnya. Dia bercerita kalau sudah mengawasiku sejak berada di sendang drajat tadi. Katanya ia terkesan dengan kesopananku, saat mengambil air dengan melepas alas kaki dan meminta izin terlebih dahulu.

Oleh karena itu ia memilihku untuk diceritakan kisahnya serta menyampaikan sebuah pesan. Kemudian dibawalah aku menuju sebuah tempat yang memiliki jalan setapak namun dipinggirnya ialah jurang. “Disinilah aku terjatuh dan terpeleset, hingga aku meninggal dunia” jelasnya. Dipegangnya tanganku, tiba-tiba tepat dihadapanku terlihat seseorang terpeleset kedalam jurang diiringi dengan teriakan.

Seketika berganti lagi, aku sudah berada didasar  jurang, akupun kaget setelah melihat seseorang dengan darah mengalir deras dari bawah kepalanya. Lalu kulihat wanita yang berada disampingku. “itu kamu?” tanyaku. “Iya, itu aku” satu demi satu gambaran masa lalu tentang wanita manis itu diperlihatkan kepada ku. Dari proses evakuasi jenazahnya dari dasar jurang jurang, hingga aku diajak kerumahnya dan diperkenalkan satu demi satu anggota keluarganya, sampai pada proses pemakamannya. “Kamu tahu?” tanyanya. Sambil terisak dia mulai berbicara. “Kenapa aku menceritakan semua ini, mengajakmu untuk melihat masa laluku? Seperti yang aku bilang tadi. Kamu orang baik, dan aku tidak ingin kamu mengalami hal yang sama seperti yang aku alami. Berkegiatan di alam bebas itu harus ada tata kramanya, jangan terlalu banyak bergurau, teriak-teriak sembarangan, apalagi sampai mengambil atau merusak apa yang terdapat di alam. Karena kita itu tamu, jadilah selayaknya tamu yang baik dan sopan. Permisi, minta izin itu penting dan wajib”. Diapun terdiam beberapa saat setelah memberikan pesan tersebut sambil mengusap air matanya. “Sudah pagi, sudah waktunya kamu kembali”. Dipegangnya tanganku, dengan sekejap aku sudah  berada disamping tenda tempatku ngecamp lagi. “Ingatlah apa yang seharian ini aku ceritakan kepadamu, tetaplah sopan dan jadi orang baik. Kamu boleh menceritakan ini semua ke orang lain. Agar mereka juga tahu. Jangan lupa suatu saat nanti kamu kunjungi aku lagi disini. Kembalilah keragamu” Tangkasnya. “Baik, aku akan kesini lagi suatu saat nanti. Terimakasih untuk semuanya.” Dia pun tersenyum kemudian hilang bersama hembusan angin. Lalu aku terbangun, tak terasa dahiku dipenuhi keringat. Tuhan, terimakasih untuk semuanya. Lalu kulihat jam, pukul 4.30 pagi. Sementara aku melihat teman-temanku masih tertidur pulas. Terimakasih kamu, terimakasih Lawu. Suatu saat aku akan kembali lagi kesana untuk sowan ( berkunjung ), dan menemuimu. Dan, maaf aku baru bisa mempublikasikan ceritamu di bulan Juli 2019 ini.

0 komentar:

Posting Komentar